Rabu, 17 November 2010

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK JAHE MERAH TERHADAP KONSUMSI PAKAN, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN FEED CONVERSION RATIO (FCR) AYAM BROILER UMUR 3 MINGGU S

Gatot Adiwinarto

ABSTRAK

Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak jahe merah terhadap konsumsi pakan, PBB, dan FCR pada ayam broiler umur 3 minggu sampai 6 minggu hari. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menyumbangkan bahan informasi ilmiah bagi peneliti, praktisi serta pemerhati bidang peternakan tentang penggunaan ekstrak jahe merah dalam air minum terhadap ternak ayam broiler. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 64 ekor ayam broiler strain CP 707, umur 3 minggu. Kandang yang digunakan adalah kandang petak yang terbuat dari bambu, sebanyak 16 petak, tiap petak 4 ekor ayam broiler, luas petak kandang 80x60x60 cm. Pakan yang digunakan dalam penelitian adalah pakan komersial, konsentrat BC, jagung, bekatul. Metode yang digunakan adalah metode percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan dan penelitian ini adalah T0 ekstrak jahe merah 0% (kontrol), T1 ekstrak jahe merah 5%, T2 ekstrak jahe merah 10% dan T3 ekstrak jahe merah 15 %. Penelitian ini dimulai pada umur 3 minggu dan diakhiri umur 6 minggu. Data penelitian yang diperoleh diolah dengan analisis statistik ANOVA, untuk konsumsi pakan, PBB dan FCR. Jika dalam analisis tersebut terdapat perbedaan hasil perlakuan, maka untuk mengetahui perlakuan mana yang menunjukkan perbedaan, analisis dilanjutkan dengan menggunakan metode Duncan’s new Multeple Rage Test (DMNRT), atas dasar 5% ”level of significane”. Hasil penelitian diperoleh bahwa dengan penambahan ekstrak jahe merah dalam air minum dapat memberi pengaruh yang nyata (P<0.05)>

Kata kunci: Ekstrak jahe merah, Konsumsi pakan, PBB, FCR, Ayam Broiler

Senin, 21 Juni 2010

ANTI API

Apabila anda kena api atau barang yang panas dapat diobati secara alternative dengan cara melakukan bacaan di bawah ini, dan dengan konsentrasi menghilangkan panas dan menyembuhkan seperti sedia kala.

Bismillahhirohmanirohim
Ya narukunibardan wassalaman ‘ala Ibrohim 3 x
Aku iman widek iman 3 x
Adem asrep kanthi kersane Alloh, laqu ya arduhu rukuni badan Alloh

Bismillahilladzi laayashuru ma’asmihi syaiung fil ardhi walla fissamaai wahuwassamiiulalliim (baca 3 x tahan napas)

Kemudian pada lokasi yang terkena api dihisap dengan menggunakan jurus tiga tarik.

TATA CARA PELAKSANAAN SHOLAT HAJAD DAN DO’A BERSAMA

Cara Sholat Hajad
Diawali dengan niat sholat Hajad
1. Rekaat 1, setelah membaca Al-Fatihah membasa surat Al-Ikhlas 10 x
2. Rekaat 2, setelah membaca Al-Fatihah membasa surat Al-Ikhlas 20 x
Salam
Setelah salam berdiri lagi, niat sholat hajat
3. Rekaat 3, setelah membaca Al-Fatihah membasa surat Al-Ikhlas 30 x
4. Rekaat 4, setelah membaca Al-Fatihah membasa surat Al-Ikhlas 40 x
Salam

Setelah selesai sholat kemudian membaca :
1. Ashadu anla ilaha illaloh waashaduanna muhammadarosululloh 1 x
2. La ilaha ilalloh 100 x
3. Ya rohman 40 x
4. Ya rohim 40 x
5. Ya ‘alim 40 x
6. Ya batin 40 x
7. Ya ‘aziz 40 x
8. Ya ghofur 40 x
9. Ya rozakh 40 x
10. Ya wahab 40 x
11. Membaca sholatwat Nabi Muhammad SAW
12. Do’a

Senin, 08 Februari 2010

PROSES TERBENTUKNYA TELUR PADA TERNAK UNGGAS


Oleh
GATOT ADIWINARTO

PROSES PEMBENTUKAN TELUR

Telur pada unggas mengandung banyak zat-zat makanan untuk persediaan perkembangbiakan embrio pada masa penetasan. Telur tidak ubahnya susu pada mamalia adalah hasil sekresi dari sistem reproduksi dan mekanisme endokrin, metabolik dan kimia faali. Bertelur sama dengan mekanisme laktasi. Telur unggas lebih besar dari pada telur mamalia, karena telur unggas harus mengandung makanan untuk perkembangan embrionik selama pertumbuhan di luar tubuh induk. Embrio unggas sangat tergantung pada zat makanan yang terdapat dalam telur. Karena itu lemak dari sudut kalori lebih pekat dari pada gula, maka telur lebih kaya akan lemak dari pada gula (dibandingkan dengan susu) (Anggorodi, 1984).

1. Yolk / Kuning telur
Kuning telur terdiri dari badan berbentuk bola besar, dari 25 sampai 150 μm garis tengah, yang terbagi-bagi adalah dalam suatu tahapan yang berkelanjutan. Yolk yang kecil ukurannya sangat kecil diperkirakan berdiameter sekitar 2 μm. Kuning telur berisi hanya sekitar 50% air. Sisa terdiri dari protein dan lipid dengan perbandingan 1: 2; lipid yang ada dalam bentuk lipoprotein (Bell dan Freeman, 1971).
Lebih lanjut menyatakan pada umumnya sintesis protein kuning telur berasal dari hati atas rangsangan hormon oestrogen. Kemudian diangkut oleh darah nemuju indung telur (ovarium).
Dalam ovarium ayam petelur mengandung 1000 sampai 3000 folikel, ukurannya sangat bervariasi dari ukuran mikrokopik sampai sebesar satu kuning telur. Kuning telur yang lebih kecil mulai tumbuh dengan cepat sekitar 10 hari sebelum dilepaskan ke dalam infundibulum. Kuning telur diliputi oleh suatu membran folikuler, yang menempelkannya pada ovari. Membran ini memiliki suatu bagian yang terlihat hanya sedikit mengandung pembuluh darah. Bagian atau daerah itu disebut stigma. Inilah tempat dimana kuning telur robek dan melepaskan ovum pada saat ovulasi. Karena zat-zat makanan disalurkan melalui membran folikuler dari aliran darah menuju ke ovum, sejumlah darah kadang-kadang dilepaskan bersama-sama kuning telur itu karena tempat pecahnya tidak selalu tepat pada stigma. Inilah yang kadang menyebabkan munculnya suatu blood spot di dalam telur (James Blakely dan David, 1985).

2. Reproduksi pada ayam
Pola reproduksi pada ayam berbeda dengan mamalia terutama beberapa segi yang terpenting, ayam bertelur dengan berirama bertelur, yaitu bertelur satu atau lebih pada hari yang berurutan, kemudian diikuti satu hari istirahat. Ayam yang prolefik bertelur 5 butir atau lebih dalam satu irama bertelur (clutch).
Timbulnya clutch dikarenakan pembentukan telur diburuhkan total waktu 25 – 26 jam dan ovulasi berikutnya pada clutch yang sama terjadi 30 – 60 menit setelah ovulasi telur sebelumnya. Jadi karena ovulasi tidak terjadi secara teratur setiap siklus 24 jam, maka waktu ovulasi hari berikutnya pada clutch yang sama akan terlambat (Nalbandov, 1990).

3. Pengendalian Hormon Bertelur.
Reproduksi burung adalah yang berkaitan dengan sistem pengendalian pada ayam yang sedang bertelur, yang disebut hierarki folikuler yakni gradasi berat dan ukuran folikel. Hanya satu folikel yaitu yang terbesar yang menjadi masak dan di ovulasikan dalam waktu satu hari, segera setelah folikel ini pecah, kemudian nomor 2 terbesar tumbuh menjadi besar, demikian seterusnya peristiwa tersebut terjadi berurutan.
Rincian permainan hormonal antara ovarium dengan sistem hipotalamus-hipofiseal unggas semuanya jelas, kecuali kita ketahui benar-benar ialah bahwa ovarium burung secara total tergantung pada hormon Gonadotrofik yang berasal dari pituitari. Telah diketahui bahwa hipotalamus dalam pengendalian pelapisan LH dan FSH hipofisa. Diakuinya hipotalamus melalui cara pembedahan, tepatnya pada nuklei praoptik di daerah paraventrikuler, ternyata dapat menghentikan ovulasi (Nalbandov, 1990).

4. Oviduk.
Setelah ovulasi ovum ditangkap oleh fimbria dan masuk kedalam infundibulum kuning telur akan berdiam kurang lebih selama ¼ jam dan dibagian ini terjadi pertemuan dengan sel jantan, setelah itu diteruskan ke magnum (Rasyaf, 1992). Lebih lanjut Nalbandov, (1990) menuliskan bahwa disini telur menerima lapisan albumen. Sekresi albumen pada magnum yang dikontrol oleh dua hormon. Hormon estrogen yang fungsi utamanya menyebabkan perkembangan anatomi dan perkembangan kelenjar seluruh oviduk, tetapi estrogen saja tidak dapat menyebabkan pembentukan calon albumen dalam kelenjar, atau sekresi albumen sendiri ke dalam lumen magnum. Hormon yang kedua dibutuhkan untuk kepentingan kedua-duanya, baik pembentukan atau sekresi albumen.
Androgen dan progesteron yang kedua-duanya beraksi terhadap magnum yang berkembang karena estrogen, dapat menyebabkan pertumbuhan granula albumen dan pelepasan granula ini ke dalam lumen. Setelah pertumbuhan magnum yang di prakarsai oleh estrogen dan pembentukan granula albumen yang disebabkan baik androgen ataupun progesteron, satu peristiwa lagi masih tertinggal yaitu sekresi albumen kedalam lumen. Hal ini biasanya terpicu oleh adanya benda asing di magnum , apakah itu ovum ataukah benda asing yang berada dalam magnum.
Setelah mendapat albumen dalam perjalanan di magnum selama 2,5 jam atau 3 jam, telur bergerak ke isthmus, disini disekersikan kerabang lunak. Bagian oviduk ini secara histologis berbeda dengan magnum tetapi dikontrol oleh hormon yang sama, yang beraksi dengan cara yang sama dan dalam rangkaian tahap yang sama, seperti yang terjadi pada magnum. James Blakely dan David, (1985)mengemukakan di daerah isthmus mendapat pelapisan membran yaitu membran luar dan membran dalam, dalam keaadaan normal masing-masing membran menempel, kecuali pada suatu tempat dimana membran tersebut berpisah yaitu pada ujung tumpul telur. Perpisahan kedua membran tersebut membentuk suatu rongga udara. Telur tinggal di isthmus selama kurang lebih 1,5 jam dan setelah menerima kerabang lunak dan air, dikuatkan oleh Rasyaf (1992) dibagian ini ditambahkan pula Natrium, Kalsium dan garam. Telur tersebut bergerak ke kelenjar kerabang atau yang dinamakan pula uterus, telur tinggal di daerah ini selama kurang lebih 22 jam, dan kerabang kapur disekresikan menyelubungi (Nalbandov, 1990).

Tabel 1. Rataan panjang bagian pembentukan telur dan lama waktu proses berjalan

Bagian

Panjang (cm)

Waktu (jam)

Infundibulum

11,0

0,25

Magnum

33,6

3,00

Isthmus

10,6

1,25

Uterus

10,1

20,15

Vagina

6,9

0,15

Sumber : Rasyaf 2003




5. Pengeluran Telur (Oviposisi).
Dalam kondisi normal telur dibentuk bagian tumpul terlebih dahulu. Jika induk tidak terggangu pada saat bertelur, sebagian besar telur akan dikeluarkan dengan ujung tumpul lebih dulu. Hal ini tidak diketahui secara pasti sebabnya, tetapi diketahui bahwa sesaat sebelum dikeluarkan, telur diputar secara horisontal (tidak ujung ke ujung), 180 derajat sesaat sebelum telur itu dikeluarkan. Ovulasi pada ayam secara normal terjadi 30 menit setelah telur dikeluarkan. Interval waktu dapat bervariasi antara 7 sampai 74 menit (James Blakely dan David, 1985). Lebih lanjut menyatakan pengeluaran telur dirangsang oleh cahaya sehingga merangsang dan meningkatkan suplai FSH. Hormon ini pada gilirannya melalui aktivitas ovari mengakibatkan terjadinya ovulasi dan oviposisi.

6. Sifat Mengeram.
Induk ayam mengeram diakibatkan oleh pengaruh hormon prolaktin dari pituitari anterior, ayam menghabiskan waktu dengan duduk diatas sarang dan menetaskan serta mengasuh anak-anaknya. Bila sifat keibuan ini demikian kuat sehingga induk ayam terus menerus duduk diatas sarang, hal ini merugikan karena pada saat mengeram ayam tidak memproduksi telur (James Blakely dan David, 1985).
DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi R., 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT Gramedia. Jakarta.

Bell D.J. and Freeman B.M., 1971. Physiology and Biochemistry of the Domestic Fowl. Volume 3. Academic Press. London New York.

James Blakely and David H. Bade, 1985. Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh Bambang Srigandono dan Soedarsono).

Nalbandov A.V., 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. Edisi ketiga. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. (Diterjemahkan oleh Sunaryo Keman).

Rasyaf M., 1992. Pengelolaan Peternakan Unggas Pedaging. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

------------- 2003. Beternak Ayam Petelur. PT Penebar Swadaya. Jakarta.

METBOLISME DAN CARA TERNAK MELEPAS PANAS TUBUH MELALUI KONDUKSI

Oleh
GATOT ADIWINARTO, S.Pt

METABOLISME

Difinisi
Metabolisme berasal dari kata Yunani “metaballein” yang mempunyai arti “mengubah”, sehingga didefinisikan sebagai gabungan seluruh reaksi kimia yang terjadi di dalam sel makluk hidup. Proses kimia pada makluk hidup ini mendapatkan senyawa kimia sekitarnya, kemudian menggunakan dan mengubahnya untuk mempertahankan kerlangsungan hidupnya. Metabolisme mencakup dua proses reaksi yaitu katabolisme dan anabolisme. Katabolisme berkaitan dengan reaksi degradasi, sedangkan anabolisme berhubungan dengan rekasi sintetis. (Abdul Hamid A., 2001).
Lebih lanjut Srigandono B. (1991) dalam Kamus Istilah Peternakan medefinisikan metabolisme adalah suatu proses kimia maupun fisika yang berurutan yang terjadi untuk mempertahankan kehidupan dalam tubuh. Dari proses ini juga tersedia energi yang berguna dalam berbagai kerja serta produksi. Proses pembangunan, baik kimia ataupun fisika yang melibatkan pemanfaatan zat-zat makanan untuk tubuh disebut anabolisme. Proses penghancuran untuk menghasilkan energi melalui pemecahan jaringan disebut catabolisme.
Dengan demikian metabolisme adalah suatu istilah untuk menunjukkan perubahan-perubahan kimiawi dalam komponen bahan makanan yang terjadi setelah pencernakan dan penyerapan. Berbagai zat nutrisi (protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral) selama proses pencernakan telah diubah kedalam setruktur sederhana sehingga dapat deserap tubuh ternak. Akan tetapi zat-zat nutrisi tersebut harus diubah kembali kedalam bentuk kompleks sebelum zat-zat nutrisi tersebut bermanfaat bagi ternak. Agar jaringan tubuh ternak sanggup menggunakan senyawa sederhana yang dibawa aliran darah, maka perlu terjadi reaksi kimiawi lebih lanjut. Pada proses tersebut timbul energi, panas dilepaskan, dan banyak produk akhir yang tidak berguna dikeluarkan melalui ginjal. (Anggorodi, 1995).

Pengendalian Metabolisme
Semua reaksi metabolisme baik yang sederhana maupun komplek dikendalikan secara ketat dan dilakukan secara fleksibel, disesuaikan denga lingkukangan kuar sel (prokariot atau eukariot), utuk mempengaruhi prinsip ekonomis dan kerja sel secara normal. Pengendalian metabolisme dapat dilakukan melalui pengawasan laju enzim. Pengendalian ini pada dasarnya ada dua cara, yaitu mengatur konsentrasi enzim dan mempengaruhi pengubahan antara bentuk-bentuk aktif dan tidak aktif. Bentuk pengaturan melalui pengendalian konsentrasi enzim tertentu telah dipelajari lebih intensif pada bakteri, pengendalian metabolisme tersebut dapat dicapai pada tahap transkripsi dan sedikit pada tahap translasi (Abdul Hamid A., 2001).

SISTEM PEMBUANGAN PANAS PADA TERNAK
Ternak dalam kehidupannya secara fisik dipengaruhi oleh lingkungannya baik itu lingkungan fisik, lingkungan biologi dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik yang secara langsung diterima oleh ternak antara lain, dari tanah, temperatur, sinar matahari, kelembaban dan juga angin. Ternak untuk mempertahankan diri dari lingkungan yang mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung, akan memproduksi panas. Panas tersebut yang diproduksi oleh ternak akan menggantikan panas yang hilang akibat penyesuaian suhu tubuh ternak.
Ternak dalam melepaskan panas untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya melalui radiasi, konveksi, konduksi, evaporasi dan metabolisme. Perpindahan energy yang dikeluarkan ternak pada lingkungannya sesuai dengan panas yang dihasilkan (Hafez. By. E.S.E, 1968).

KONDUKSI
Konduksi adalah perpindahan panas dari ternak yang mempunyai suhu lebih tinggi pada sebuah benda yang suhunya lebih rendah. Kecepatan dari beberapa konduksi panas dari berbagai subtansi alam, misalnya konduktivitas panas dari perak adalah 1000 ; kulit manusia 3,5 – 0,8 (tergantung dari aliran darah); air 1,4 ; kelinci 0,06 ; udara 0,056. Sehingga kecepatan konduksi panas memasuki kulit adalah sama jumlahnya seperti yang masuk pada perbandingan dari air, tetapi lebih tinggi 10 – 60 kali dari pada perbandingan pada penyulingan air (Hafez. By. E.S.E, 1968).
Konduksi terjadi tergantung dari pada 1) kontak fisik dengan benda atau permukaan sekelilingnya; 2) temperatur dari permukaan tersebut (tinggi temperatur); 3) konduktivitas ternak, temperatur dan luas permukaan yang kontak. Misalnya huniditas yang tinggi di musim dingin akan meningkat rasa dingin, oleh karna itu ditingkatkan konduktivitasnya melalui pakauan penutup. Air dingin merupakan alat pendingin yang efisien dan efektif melalui konduksi. Berbagai metal mudah mengkonduksi panas, sedangkan udara, minyak, lemak, bulu, rambut, nilon, sutera, kayu dan wol sukar mengkonduksi panas. Sebab itu manusia memilih panci penggorengan dari metal (dengan alat pegangan dari kayu). Panas hilang melalui konduksi, namun dapat diminimalkan dengan insulasi fur dan pakaian penutup. Sapi dan babi mendisipasi panas melalui konduksi dengan tidur di lantai yang dingin (Sihombing dkk, 2000). Panas yang dihasilkan ternak dapat hilang dari tubuh dengan cara kontak lansung dengan permukaan yang lebih dingin. Sebaliknya ternak juga dapat menambah panas melalui kontak denga permukaan yang lebih panas. Jumlah energy panas yang dapat dipindahkan melalui konduksi, tergantung pada perbedaan temperatur diantara dua tempat, luasnya permukaan yang kontak, dan penutup dari dua benda yang saling berkontak. Perpindahan panas hingga ke struktur badan juga melalui proses konduksi. Pemindahan panas dari ternak ke lantai kandang akan lebih besar jika ternak tiduran dari pada berdiri.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hamis. A, (2001). Biokimia : Metabolisme Biomolekul. Penerbit Alfabeta. Bandung.

Ames, 1995. Tunnel Ventilation to Alleviate Animal Heat Stress. Iowa State University Extension.

Anggorodi, (1995). Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Esmay L. Merle, 1978, Principles of Animal Environment. Avi Publishing Company, INC. Westport, Connecticut.

Hafez. By. E.S.E, 1968. Adaptation of Domestic Animals. Lea and Febiger. Philadelphia.

Sihombing. DTH, dkk, 2000. Lingkungan Ternak. Universitas Terbuka. Jakarta.

Srigandono B. (1991). Kamus Istilah peternakan. Penerbit Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Minggu, 01 November 2009

PROPOSAL PEMELIHARAAN AYAM PEDAGING

Gatot Adiwinarto

2004


I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang.

Permintaan masyarakat akan protein hewani semakin meningkat sejalan dengan tingkat kemajuan zaman karena masyarakat telah sadar akan pentingnya protein hewani bagi tubuh terutama bagi anak-anak yang sedang tumbuh. Dan diharapkan dengan tercukupinya protein, pertumbuhan anak tidak terhambat dan menjadi generasi muda yang berkualitas.

Komonditas ternak ayam pedaging semakin berkembang seiring dengan kemajuan zaman yang semakin modern. Dalam kondisi negara yang tidak menentu seperti sekarang ini banyak para pengusaha besar yang mundur, tetapi tidak demikian dengan dengan peternak menengah masih bisa bertahan dan cenderung menjadi peluang untuk terus melanjutkan usahanya.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan maka pemeliharaan ayam pedaging sudah tidak menjadi masalah karena hambatan sudah dapat ditekan sekecil mungkin, misalnya masalah penyakit ND yang sangat merugikan, sekarang sudah dapat dicegah dengan adanya vaksin, demikian pula denga penyakit-penyakit yang lain sudah dapat dikendalikan, obat-obatan yang modern mudah untuk didapatkan.

Untuk mengembangkan dan membekali mahasiswa Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang dalam hal usaha ternak ayam pedaging, yang mana telah mempunyai kandang dengan ukuran 3 meter x 20 meter sebanyak 2 buah yang dapat menampung ayam pedaging sejumlah 800 ekor. Kandang tersebut dibuat untuk digunakan praktikum mahasiswa, sehingga dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat di bangku kuliah, dan sebagai pengalaman pemeliharaan sebagai bekal dalam melakukan tugasnya nanti.

2. Masalah.

Belum optimum penggunaan kandang di STPP Magelang, yang sampai saat ini kurang menunjang sebagai lembaga pendidikan peternakan. Pemeliharaan ayam pedaging memerlukan modal operasional, sehingga perlu adanya suntikan modal melalui beberapa sumber.

3. Tujuan.

Untuk mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasarana yang ada di STPP Magelang dan sebagai lahan praktikum bagi mahasiswa serta para petani ternak di sekitarnya, selain itu juga untuk aplikasikan ilmu pengetahuan yang di terima oleh mahasiswa di bangku kuliah.

4. Kegunaan.

Menambah wawasan dan pengetahuan tentang beternak ayam pedaging bagi mahasiswa maupun peternak sekitar dan dapat melakukan berbagai percobaan teknologi baru, sebelum disampaikan kepada masyarakat luas.

II. ASPEK PEMASARAN

1. Gambaran Umum Pasar.

Jenis produk yang akan dipasarkan adalah berupa ayam pedaging umur antara 35 hari sampai dengan 40 hari dijual dalam keadaan hidup. Ayam tersebut dipasarkan di kota Magelang dan sekitarnya dengan melalui tengkulak atau langsung ke pemotong, mengingat masih belum terpenuhi kebutuhan daging ayam di Magelang.

2. Permintaan.

Jumlah permintaan daging ayam di Magelang kodya dan Kabupaten sudah mencapai puluhan ton per hari, hal ini terlihat dari para penampung ayam pedaging Bu Tatik yang ada di Tidar Magelang, Bu Jum pemotong yang ada di Pakis dan beberapa tengkulak yang siap menerima hasil panen.

3. Rencana penjualan dan Pangsa Pasar.

Dari permintaan tersebut diatas, rencana untuk memproduksi ayam pedaging di tahun pertama sekitar 600 ekor dan akan berkembang pada tahun-tahun berikutnya melihat kondisi perkandangan dana serta kebijakan pimpinan STPP Magelang.

4. Pesaing.

Produk yang dihasilkan oleh pasaran umum yang menpunyai ciri-ciri sebagai berikut pada umumnya umur ayam dijual 35 – 45 hari dengan bobot hidup antara 1,5 – 2 kg dengan bentuk produk ayam hidup.

5. Strategi Pemasaran Kita.

Produk yang akan dipasarkan mempunyai cirri-ciri sebagai berikut ayam dijual umur antara 35 hari sampai 40 hari dengan bobot ayam antara 1,7 kg sampai 2 kg, dengan FCR maksimal 1,9 ayam dijual dalam kondisi hidup. Pesaing yang ada akan kita jadikan mitra kerja.

III. ASPEK PRODUKSI DAN TEKNOLOGI

1. Produk.

Produk yang akan dihasilkan berupa ayam pedaging siap potong umur antara 35 – 45 hari dengan perkiraan berat badan antara 1,7 – 2 kg per ekor, warna bulu putih, kulit dan kaki berwarna kekuningan.

2. Proses produksi.

Modal -------- DOC Masuk -------- Pemeliharaan awal ----------- Pemeliharaan Akhir ------------ Ayam siap jual --------- Pemasaran

4. Tanah dan Bangunan.

Tanah dan bangunan yang digunakan adalah milik inventaris STPP Magelang dengan perhitungan pemanfaatan sarana dan prasarana yang ada, sebagai sarana praktikum mahasiswa pada mata kuliah produksi ternak unggas. Tanah dan bangunan tidak sewa untuk pemeliharaan ayam pedaging.

5. Peralatan.

Peralatan yang digunakan dari laboratorium ternak unggas yang berupa tempat pakan, tempat minum. Pemanas, penerangan dan lain sebagainya.

6. Pengendalian Limbah.

Limbah pemeliharaan yang berupa kotoran dan sekam dapat dijual sebagai pupuk kandang seharga Rp 1000,- per karung dan karung bekas tempat pakan dapat di jual per lembar Rp 400,- .

7. Penyusutan.

Peralatan diperkirakan usia ekonomis dalam jangka waktu 2 tahun dan dalam satu tahun direncanakan dapat di gunakan sampai 5 kali panen.


8. Analisa rencana pemeliharaan.


KINERJA PEMELIHARAAN YANG DIHARAPKAN

1. Jumlah Ayam masuk

600 ekor

2. Mortalitas 30 ekor (5%), Jumlah panen

570 ekor

3. Berat panen

1.254 kg

4. Berat rata-rata

2,2 kg

5. Kebutuhan pakan

2.508 kg

6. FCR

2,00

7. Umur penjualan

42 hari

8. Harga daging rata-rata per kg

Rp 8.000,-

9. Pemeliharaan tanggal ...........




BEAYA


1. Bibit ayam Super Chick 600 ekor @ Rp 2.400,-

Rp 1.440.000,-

2. Pakan Gunafeed 2.508 kg @ Rp 3.100,-

Rp 7,774,800,-

3. Vitamin dan Vaksin

Rp 200.000,-

4. Obat-obatan

Rp 150.000,-

5. Sekam 30 karung @ Rp 3.750,-

Rp 112.500,-

6. Minyak tanah 60 liter @ Rp 1.200,-

Rp 72.000,-

7. Tenaga kerja

Rp 180.000,-

9. Lampu pijar, tali plastik, pemanas

Rp 70.700,- +

Jumlah

Rp 10.000.000,-



PENERIMAAN


1. Total penjualan 1.254 kg @ Rp 8.000,-

Rp 10.032.000,-

2. Total beaya

Rp 10.000.000,- -

Penerimaan

Rp 32.000,-


IV. ASPEK MANAJEMEN OPERASIONAL

1. Struktur Organisasi.

Untuk pengelolaan diperlukan manajemen sederhana karena masih tahap awal dan jumlah ternak yang dipelihara baru 600 ekor, namun demikian sebagai lembaga pendidikan perlu kiranya susunan organisasi yang jelas dalam pemeliharaan sebagai unit produksi. Adapun susunan organisasi sebagai berikut :



2. Uraian Tugas.

a. Ketua STPP.

☻Penanggung jawab kegiatan pengembangan sarana praktikum.

b. Pimpinan Proyek

☻Penangung jawab pelaksanaan pengembangan sarana praktikum STPP Magelang.

☻Mengawasi dan mengontrol laporan keuangan

☻Membantu menyelesaikan masalah yang timbul

☻Menghubungkan dengan pihak lain.

c. Pelaksana

☻Merencanakan pengelolaan

☻Mengawasi jalannya pemeliharaan setiap hari

☻Mengawasi dan memberi perintah pada anak kandang

☻Membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh tenaga ahli

d. Tenaga ahli

☻Membuat pembukuan dan administrasi pemeliharaan

☻Melakukan transaksi jual beli ternak

☻Membuat laporan pemeliharaan dan dilaporkan ke atasannya

☻Mengarahkan pekerjaan pada anak kandang

☻Menjaga kesehatan ternak selama pemeliharaan

e. Anak kandang

☻Sanitasi kandang dan peralatan, menyebar sekam untuk litter

☻Memberikan pakan dan minum setiap hari dan juga menjaga keselamatan ternak

☻Melaporkan kejadian-kejadian pada tenaga ahli

☻Melaksanakan perintah yang diberikan oleh tenaga ahli dan pelaksana.

2. Rencana Kegiatan.

Dalam satu tahun direncanakan dapat memelihara sebanyak 5 periode dengan istirahat kandang yang cukup sehingga diharapkan tidak berpengaruh terhadap keberhasilan pemeliharaan selama satu tahun tersebut.


Jumat, 02 Oktober 2009

PERKANDANGAN IDEAL UNTUK PEMELIHARAAN UNGGAS DI WILAYAH PANTAI



Oleh

Gatot Adiwinarto


I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.

Kandang merupakan tempat tinggal bagi ternak, untuk itu harus dibuat agar memenuhi persyaratan, kegunaan kandang adalah untuk melindungi ternak dari berbagai pengaruh luar yang berupa pengaruh fisik ( temperatur, kelembaban, angin, hujan maupun panas serta binatang pemangsa). Dengan demikian perlu dilakukan perencanaan untuk membangun sebuah kandang, perlu dipertimbangkan dari beberapa aspek yang mendukung dapat ditinjau dari segi ekonomis, kenyamanan ternak maupun peraturan pemerintah, sehingga membangun sebuah kandang sebaiknya mempertimbangkan faktor-faktor lokasi, kontruksi dan peralatannya.

Perkandangan yang di dirikan harus memperhitungkan faktor lokasi, dimana kita mendirikan, didaerah pegunungan (temperatur rendah) ataukah di pantai yang memiliki temperatur lingkungan tinggi. Hal ini akan menentukan bentuk kandang yang di bangun. Contoh yang riil pada pemeliharaan unggas pedaging yang pertumbuhannya cepat memerlukan model kandang yang tidak boleh mengganggu performen unggas tersebut (Rasyaf. M, 1992). Lebih lanjut Sudrajat (1998) agar ayam yang hidup di dalam kandang sehat dan nyaman, maka semua bentuk kandang untuk pemeliharaan ayam, baik di fase pertumbuhan maupun di fase produksi harus memenuhi beberapa persyaratan seperti ventilasi, yang sangat berhubungan dengan bentuk dinding dan atap, dari bahan yang baik untuk kandang adalah tidak menghantarkan panas, sinar matahari pagi dapat masuk kandang, ukuran kandang, dan pohon pelindung.

1.2. Masalah

Daerah pantai yang mempunyai iklim yang panas merupakan suatu kendala bagi pertumbuhan ternak, karena pertumbuahn ternak unggas memerlukan kondisi lingkungan yang nyaman. Kenyamanan ternak unggas yang dapat berproduksi optimal berkisar antara suhu 19OC – 21OC dapat tumbuh secara optimal (Rasyaf (2003). Sedangkan suhu udara didaerah pantai rata-rata diatas 26OC (Budi Nugroho dkk, 2001).


1.3. Tujuan

Untuk mencari sistem perkandangan ternak unggas yang tepat di daerah pantai. Sehingga diperoleh produksi yang optimal.



II. KEADAAN TOPOGRAFI DAN WILAYAH

2.1. Keadaan Topografi

Indonesia secara geografis, daerah tropis yang berada pada area 23°LU (Lintang Utara) dan 23°LS (Lintang selatan) ekuator. Lingkungan yang tepat untuk peternakan yang disarankan oleh beberapa ahli peternakan adalah daerah yang berada di 30°LU dan 30°LS. Daerah ini mencakup klimat panas, dimana elevansi ketinggian tempat dan curah hujan yang sangat tinggi sangat berpengaruh terhadap produktifitas dan pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu kawasan seperti ini selalu menghadapi problem (Sihombing, 2000).

2.2. Mikro Klimat Wilayah

Iklim pada umumnya wilayah pantai di Indonesia berada pada altitude (ketinggian tempat) kurang dari 5 mdpl, dengan permukaan dataran landai. Ciri dominan terutama daerah tropik, adalah rata suhu udara relatif tinggi, lebih dari 26°C. Daerah pantai yang mempunyai dataran landai, pepohonan, bangunan yang tinggi jarang, hal ini mengakibatkan tidak ada hambatan bagi gerakan udara, sehingga kecepatan angin relatif tinggi. Pada siang hari akan berhembus angin laut dan pada malam hari akan berhembus angin darat, hal ini merupakan ciri khas di daerah pantai (Budi Nugroho dkk, 2001)


III. SISTEM PERKANDANGAN

Dalam usaha peternakan yang secara komersial sangat diperlukan tempat pemeliharaan yang disebut kandang, sebenarnya kandang adalah suatu tempat atau bangunan yang diperuntukkan untuk ternak agar ternak tersebut dapat hidup dalam keadaan enak, nyaman dan menyenangkan (Comfort), tidak kepanasan oleh sinar matahari, tidak basah oleh air hujan, dan tidak terkena tiupan angin kencang serta melindungi ternak dari serangan ternak lain seperti hewan pemangsa ataupun manusia (Soepardjo Tjokrohoesodo, dkk, 1999).

Perkandangan yang banyak digunakan diwilayah pantai, berupa kandang terbuka dimana sirkulasi udara secara bebas masuk dan keluar kandang dengan dinding dari bilahan bambu, atap sering digunakan dari genteng, sedangkan lantai kandang ada dua model yaitu lantai litter diatas tanah dan lantai litter yang berada secara panggung, peralatan yang digunakan masih konvensional tempat pakan dan minum gantung, letak kandang sangat dekat dengan pemukiman penduduk.


IV. PEMBAHASAN

4.1. Dinding Kandang

Diding kandang yang terbuat dari bilahan bambu yang disusun berderet dengan jarak antara 2 – 5 cm, berfungsi sebagai pelindung ayam dari gangguan luar dan penghalang agar ayam tetap berada didalam kandang. Sebaiknya dinding kandang dibuat dari bahan yang kuat dan rapat tetapi tetap dapat memberikan kondisi yang nyaman bagi lingkungan dalam kandang. Hany Widjaja (2003) mengemukakan pendapat bahwa kemajuan manajemen peternakan sudah mengarah pada perkandangan yang dibuat lebih mewah dengan kondisi tertutup rapat, aliran udara dilakukan dengan menggunakan blower (kipas angin besar) hal ini menjamin ventilasi udara yang baik, sehingga sirkulasi udara dalam kandang terjamin dengan demikian udara segar dari keluar dapat masuk untuk menggantikan udara yang kotor di dalam kandang. Pergantian udara yang sempurna dapat mencegah kondisi yang panas didalam kandang yang disebabkan oleh penguapan kotoran (Soepardjo Tjokrohoesodo, dkk, 1999). Lebih lanjut Rasyaf (2003) menyatakan bahwa udara di dalam kandang yang pengap dan bau dapat menurunkan produksi. Dalam hal ini yang terpenting adalah keluarnya CO2 dan bau aminia yang dapat menganggu kesehatan ayam.

4.2. Lantai Kandang.

Lantai kandang yang digunakan di daerah pantai adalah lantai litter dan ada pula yang lantai panggung. Dari dua model lantai tersebut mempunyai keunggulan masing-masing, misalkan lantai yang terbuat litter ayam akan memperoleh vitamin B12 dari kotoran yang dikais-kaisnya, namun kerugiannya sistem ini kepadatan kandang ayam per m2 lebih sedikit, jika untuk ayam petelur akan menghasilkan telur yang kotor (Titik Sudaryani dan Hari Santosa, 2003).

4.3. Atap Kandang.

Atap kandang yang terbuat dari genting dan sistem yang digunakan dengan konstruksi biasa merupakan model yang banyak dijumpai di daerah pantai, hal ini diperlukan jika pemeliharaan tidak begitu banyak dan kandang tidak terlalu luas.

Untuk menghindari panas lingkungan dan sirkulasi udara yang sempurna konstruksi atap kandang perlu dibuat dalam bentuk monitor, terutama untuk ayam dalam jumlah yang besar. Bahan atap sebaiknya dipilih dari bahan yang ringan, murah dan tidak menghantar panas misalnya genting (Rasyaf, 2003)


V. KESIMPULAN DAN SARAN

Dari uraian tersebut diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa pemeliharaan ternak unggas di daerah pantai, masih dilakukan secara konvensional dengan perkandangan yang masih sederhana, baik kondisi kandang maupun peralatan yang digunakan dalam pemeliharaan ayam.

Sebagai saran demi perbaikan sistem perkandangan yang nyaman bagi ternak dengan suhu rendah dan sirkulasi udara yang baik, dengan mengunakan kandang panggung, dinding kandang terbuka, terbuat dari bahan yang kuat, bentuk atap monitor, atau yang lebih modern dapat berbentuk kandang tertutup (Close hause) yang aliran udara dapat diatur.



DAFTAR PUSTAKA

Budi Nugroho, Dwi Joko Priyono F., John Tetalepta, Neneng L. Nurida, Rini Hidayati, Rustamsjah dan Wawan. 2001. Pengelolaan wilayah pesisir untuk pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan. Makalah Kelompok IV. Falsafah Sains (PPs 702). Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Hany Widjaja, 2003. Rumah Idamanku (Sistem Kandang Tertutup Bagi Ayam Modern). CP-Buletin Service. Pokphand. Edisi Oktober 2003. Nomor 46 / Tahun IV.

Rasyaf. M, 1992. Pengelolaan Peternakan Unggas Pedaging. Penerbit Kaniseus. Yogyakarta.

_________, 2003. Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

Sihombing DTH., 2000. Lingkungan ternak. Modul Universitas Terbuka. Jakarta.

Soepardjo Tjorohoesodo, Eduard Azwar Sinar dan Tuti Maria Wardiny. 1999. Bangunan dan Peralatan Kandang. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Universitas Terbuka. Jakarta.

Sudrajat, 1998. Budidaya Ternak Unggas. Diterbitkan Universitas Terbuka. Jakarta.

Titik Sudaryani dan Hari Santosa, 2003. Pemeliharaan Ayam Ras Petelur di Kandang baterai. Penebar Swadaya. Jakarta.